Bunda, kau memang sangat teramat istimewa bagiku, kau adalah sosok wanita yang selalu kukagumi sepenuh hati karena ketegaran dan ketulusan cintamu.
***
Waktu itu terekam sangat jelas dalam memoriku, saat engkau membuatku menanggung cobaan nan tak tertanggungkan. Senja yang temaram, setemaram keadaanku saat itu. Seperti mimpi!
Ketika ayah memintaku pulang karena kau sakit, aku kira bunda hanya sakit biasa. Saat kumasuki ruangan rumah sakit, aku bergidik. Benarkah ini kau bunda?
Sudahkah kau berhenti melukis mimpi-mimpi diantara pot-pot bunga di halaman rumah kita yang sempit, yang kau puja sebagai ramuan penyambung nyawa?
Sudahkah kau bosan menyisir rambut panjangku yang selalu kau puji sebagai jimat penolak malaikat pencabut nyawa?
Sesaat, bunda melek, membagi pandang ke semua orang yang hadir. Mereka segera berebut menyentuh bunda, seolah tak rela jika bunda pergi. Tapi perlahan bunda menutup mata sambil menyebutNya, pelan-pelan, semakin pelan dan hampir tak terdengar lagi seiring berhentinya otak bunda memerintah hidung, menolak oksigen, lalu jemari bunda lemas dalam genggamanku, layu terjatuh! Semua menahan nafas, aku tertegun.
Sampai di sini sajakah kau, bunda?! Seketika Isak tangisku meruah, menjadi-jadi, histeris. Berharap bunda mendengar tangisku.
“Bunda bangunlah! Aku ada di sampingmu, aku sudah pulang. Ucapkan selamat datang dan pastikan semua baik-baik saja. Agar menyusut gulana dalam dadaku, ciumlah mesra keningku, lalu katakan kalau kau akan selalu menjagaku, bunda!”
Percuma! Bunda hanya diam dengan mata tertutup. Seperti mumi baru jadi. Aku. Tak bernafas. Gelembung-gelembung raksasa semakin menjadi-jadi, sesak dadaku. Tangis tumpah ruah, buih kian lama kian meradang. Seakan membalik tangan! Demikian dramatis perubahan hidupku waktu itu.
****
“Belum tidur, nak. . .?”
Suara ayah, menyapaku lembut malam ini. Tangannya mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.
“Udah malam. . . sana gih cepet tidur, besok malah telat shalat subuh”
Suarnya datar. Aku menggeleng, tak peduli.
“Nanti saja, aku belum selesai menulis”
Lemah sekali suaraku terdengar, seperti orang tanpa daya. Lebih tiga jam aku menangis.
“Nulis apa nak. .??”
Tanya ayahku sambil mengambil posisi duduk di dampingku.
“Surat buat bunda, yah. Sudah lama bunda tak memberiku kabar, aku sangat merindukannya”
Ayah terkesima mendengar penuturanku. Butir-butir Kristal yang tersimpan kini perlahan muncul. Tangannya menutup mulut dan dadanya.
“Kau kenapa lagi, bunga? Kenapa kau selalu seperti ini? Kenapa Jiwa dan pikiranmu selalu menghayal yang bukan-bukan?! Kau sadar kan dengan apa yang kau katakan?!”
Aku mengangguk apa adanya, dan terus menulis. Dalam benakku, aku yakin bunda pasti membaca suratku. Sifatnya santai dan kental, ada unsur kerinduan di sana:
Tersayang
Anggota Barzah
Bunda yang baik.
Seperti biasa. . nasehat-nasehat bunda tak pernah aku lupa. Aku masih menggenggamnya, bunda!
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Apa kabar bunda? Masih sehat seperti dulu, kan?! Pasti dong. .
Bukankah disana lebih nyaman dibandingkan di dunia, tempat bunda dulu?!!
Bunga yakin, walau tak bisa melihat bunda dengan mata telanjang, bunda pasti secantik dulu, kan?!. Bahkan mungkin lebih cantik.
Bunda, seminggu bunga tak ketemu bunda, rasanya rinduuu sekali. Apa bunda juga rindu sama bunga? Sama ayah? Hmm. . jangan-jangan bunda malah merasa senang di sana, sampai lupa kami di sini. Waduhh. . jangan dong bunda, masak rindu kita bertepuk sebelah tangan??! Mirip lagunya grup Dewa saja “baru kusadari. . . cintaku bertepuk sebelah tangan. . .”
Bunda masih ingat nada lagu itu kan?! Masa lupa sih, itu lho lagunya grup band kesukaan bunda. Lagian bunga masih ingat, ketika bunda nyanyikan lagu itu, pas duet bareng ayah di depan TV. hehe . ya udah, pokoknya bunga yakin bunda pasti merindukan kami.
Bunda tau nggak, bendungan airmata ayah dan bunga jebol seketika! Gara-gara bunda pergi meninggalkan kami. Ayah nangis berat, nggak tahu berapa gallon air mata yang dikeluarkan. Sampai-sampai ayah pingsan waktu itu, dan baru sadar ketika malam menggantung.
Mungkin shock karena pasangan hidupnya pergi tak kembali. Itu tandanya ayah cinta mati sama bunda.
Bun, waktu bunda pergi aku sering sakit. Keluar-masuk rumah sakit. Nggak tau kenapa seperti ini, sering sakit-sakitan. Baru tiga hari bunga sembuh. Kata dokter, bunga mengalami shock sedikit, mungkin karena terlalu banyak masalah yang bunga pikirkan. Dokter Cuma berpesan supaya bunga tidak memikirkan yang aneh-aneh. Kata dokter, bunga mesti berorasi pikir, berkarya dan melakukan aktifitas yang padat. Entah sakit apa, bunga juga nggak ngerti. Kata orang sih, penyakit jiwa. Aahh. . bulsit!!!
Duh. . . udah banyak banget basa-basinya, pasti bunda udah capek bacanya., ya?! Udah dulu ya bunda, kapan-kapan bunga pasti tulis surat lagi buat bunda, tunggu saja episode berikutnya.
Salam dari ayah, jaga diri bunda baik-baik. Tenang saja, ayah masih cinta sama bunda, kok! Semoga bunda tenang dan damai di sana. Percaya saja, insya Allah kita nanti bakal ngumpul di harumnya firdaus. Amin
Maaf, bunga ndak bisa kasih ciuman di kening bunda, nanti di qada’ di nirwana saja, ya. Salam buat adik kecilku yang belum aku tatap dan menciumnya, jangan rewel, jaga bunda baik-baik. Juga salamku buat para muslimin dan muslimat di sana, buat para pemilik hati, teman-teman bunda, nabi pemberi petunjuk. Dan satu! teruntuk sang maha segala maha!
Bersamalah kami selamanya, aku dan seluruh keluarga mencintaimu, bunda!.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Hormat nanda, Bunga.
Rona wajah ayah semakin murung setelah membaca suratku. Ternyata dari tadi, ayah masih duduk di sampingku.
Aku melipat surat yang baru saja aku tulis dan meletakkannya di bibir jendela, dekat posisiku.
“Bunga, apa kau yakin surat ini akan dibaca bunda?”
Nada suaranya berat sekali, duet dengan melodi isaknya.
“Yakin sekali, yah!”
Ucapku mantap.
“Tapi nak, dunia kita dan bunda saat ini jauh beda. Tak terjangkau. . “
Tiba-tiba angin berhembus kencang. . . dan surat yang ada di bibir jendela, terbang terbawa angin!!
“Suratku. . .suratku. . !”
Aku berdiri menatap lembaran itu yang tengah meliuk-liuk di sela hembusan malam. Surat itu terbawa angin, terbang jauh, ke atas lalu hilang dari pandangan mataku.
“Ayah. . .” Ucapku lirih
“Suratku sudah terkirim kepada bunda, sebentar lagi bunda pasti membacanya”
Aku girang memeluk ayah. Ayah cuma diam, menetes kembali air matanya. Sedangkan aku, tentu saja bahagia berbunga-bunga.
Kupersembahkan, kepada wanita yang selalu merasa bahagia dengan agama dan akhlaknya.
Kepada setiap ibu yang mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang dan menanamkan di benak mereka benih cinta terhadap budi pekerti luhur.
Untuk jiwa-jiwa yang menginspirasi, fatihah.
BalasHapus