Selasa, 18 Oktober 2011

Kata Mereka

Dalam ruangan ini aku telah kehilangan tempat nyaman menyimpan batin dan fikiran
selalu aku nikmati kesendirianku yang menyobek sunyi dalam nurani
selalu kejalan-jalan ku mencari susu yang belum puas kuteguk sa'at tawa merdeka kecilku meruah
slalu kejalan-jalan ku mencari sepertiga atap untuk berteduh
slalu kejalan-jalan ku mencari kehangatan, tempat bersandar, mengeluh, bersimpuh, dan mengusap peluh
slalu diantara desah nafas ku mencari keadilan Tuhan diatas sajadah yang meronta yang tertulis diatasnya ukiran relief petualangan garis-garis Tanganku . . .

" Ibumu bukan Ibumu " kata mereka


Melompat dan mencari aku,
hidup yang tlah menghilang dan ku mulai membacanya
sa'at ku mulai mengenal perjalanan
dan terus menulisnya diantara reruntuhan pikiran yang diperbudak takdir buta kehidupan
Mereka tak acuh di pintu dan menatapku tanpa kata
Truuuss ku berjalan . . . smakin jauuuh dan smakin tak jelas rintik hujan di depan rumah


'' Ibumu bukan Ibumu "
di persimpangan jalan mereka menghardikku
Aku meresapinya hingga dalam, sangaaat dalam
sampai ku nikmati kehilangan di jalan-jalan . . . . .
ku seperti Kucing liar yang t'henti-hentinya menghasut ikan keluar masuk belantara pasar


" Ibumu bukan Ibumu "
Lagi-lagi suara itu terdengar jelas,
Aku mendapati diriku tengah berada pada situasi yang mencemaskan,
mungkinkah ini adalah masa jeda yang singkat dan penuh kerawanan
sebelum sampai pada puncak didih yang fatal ???
di jalan-jalan aku cenderung menempatkan diriku pada situasi yang fatal dari sebuah garis nasib
yaitu menempatkan diriku sendiri menjadi sasaran tindakan


Biarlah mereka mencabikku . . .
Di jalan-jalan aku tetap setia berlagu ESA
Di sini, di jalan, di peraduan malam hanya aku yang ada, yang tak ada dan tak pernah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar